BREAKING NEWS

Makna Pendidikan Mulai Bergeser dari Pembentuk Peradaban Menjadi Sekadar Pemenuh Kebutuhan

Sumber foto: Yanuar Vip Bagas K 

DPDIMMJATIM - Ketika meja birokrasi mulai mengukur nilai sebuah ilmu dengan timbangan industri, saat itulah lonceng kematian bagi akal sehat sedang dibunyikan. Pendidikan tinggi kita sedang diseret paksa dari wilayah pencarian kebenaran menuju lantai pabrik yang dingin. Jika relevansi hanya diukur dari slip gaji pertama seorang lulusan, maka universitas tak lebih dari sekadar perpanjangan tangan departemen HRD perusahaan besar.

Beberapa waktu lalu sempat mendengar beberapa narasi dari Mendikti Saintek bahwa beberapa program studi di Universitas akan dihilangkan karena tidak sesuai dengan industri dan lapangan kerja. Narasi Mendikti Saintek mengenai eliminasi program studi demi sinkronisasi industri mengungkap sebuah disorientasi mendalam tentang fungsi universitas dalam peradaban. Fenomena lulusan yang bekerja di luar bidangnya (horizontal mismatch) serta sempitnya lapangan kerja spesifik memang merupakan data yang valid secara statistik, namun menjadikannya alasan untuk menghapus prodi, apakah dapat menjadikan kebijakan ini menjadi sebuah solusi.

Sebelum itu perlu kita pahami seperti apa konsep pemikiran kita terkait pendidikan. Meminjam pemikiran Paulo Freire, pendidikan adalah jalan agar manusia sadar akan posisinya di dunia. Bukan hanya agar dia "tahu" sesuatu, tapi agar dia bisa "bertindak" terhadap realitasnya. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pendidikan seharusnya bukan dianggap sebagai alat pemenuhan industri namun pendidikan harus nya dianggap sebagai wadah untuk mencetak para pemikir dan membebaskan bangsa ini dari kebodohan dan ketidaktahuan. Maka dapat coba kita pahami bersama terkait narasi penghapusan beberapa program studi yang dirasa tidak relevan dengan industri ini, sebagai bentuk gagasan yang tidak solutif juga cenderung berbahaya, karena secara tidak langsung mengalihkan makna pendidikan dari sebuah proses intelektual  menjadi bentuk penjinakan mahasiswa untuk nantinya dapat di jual sesuai dengan kebutuhan industri.

Kebijakan yang hanya berbasis pada serapan tenaga kerja seringkali terjebak dalam pandangan jangka pendek. Industri bersifat sangat dinamis sehingga nantinya kebijakan ini akan berubah terus menerus tanpa ada kepastian dan landasan yang jelas. Risikonya jika kita menghapus prodi Pendidikan, Sastra, Filsafat, atau Sejarah hanya karena "sulit mendapat pekerjaan di pabrik", kita sebenarnya sedang memiskinkan daya kritis bangsa. Sehingga dampaknya adalah, kita mungkin akan menghasilkan ribuan teknisi yang mahir mengoperasikan mesin, tetapi kehilangan pemikir yang mampu mempertanyakan ke mana arah bangsa ini dibawa.

Meminjam istilah Paulo Freire tentang Banking Concept of Education, ketika kurikulum di dikte sepenuhnya oleh kebutuhan industri, maka mahasiswa tidak lagi diajak untuk memahami realitas sosialnya. Pada akhirnya pendidikan hanya menjadi proses "penjinakan" (domestication). Dimana mahasiswa hanya dilatih untuk memiliki keterampilan spesifik agar laku dijual, namun pada akhirnya kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis terhadap ketidakadilan atau anomali di dalam industri itu sendiri.

Dalam logika industri, manusia sering dilihat sebagai Human Capital (modal manusia), bukan sebagai subjek yang berdaulat. Dalam hal ini jika universitas hanya menjadi "perpanjangan tangan HRD", maka nilai seorang manusia hanya diukur dari seberapa besar kontribusi output-nya terhadap profit perusahaan.

Hal ini pada akhirnya akan membunuh "akal sehat" karena ilmu pengetahuan yang tidak menghasilkan uang dianggap tidak bernilai, padahal kemajuan peradaban dalam sejarahnya sering kali lahir dari riset teoritis yang tidak punya nilai komersial instan.

Negara yang pendidikannya hanya berfokus pada kebutuhan industri berisiko mengalami kekeringan intelektual.

Ilmu humaniora dan sains dasar adalah fondasi dari demokrasi dan inovasi. Tanpa pemahaman tentang etika, sejarah, dan logika, masyarakat akan mudah dimanipulasi oleh narasi-narasi dangkal dan akan sangat mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik dalam pemerintahan.

Menghapus prodi yang dianggap "tidak relevan" adalah bentuk pemangkasan terhadap keragaman berpikir yang sebenarnya justru sangat besar dibutuhkan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Kesimpulannya narasi penghapusan program studi atas dasar "relevansi industri" merupakan sebuah pengkhianatan intelektual yang mengubah universitas menjadi sekadar pusat pelatihan tenaga kerja masal. Hal ini secara fundamental berbahaya karena:

Reduksi Martabat Manusia: Kebijakan ini merendahkan makna manusia dari "subjek yang sadar dan merdeka" menjadi sekadar "onderdil industri" yang nilainya ditentukan oleh pasar. Pendidikan tidak lagi membebaskan, melainkan menjinakkan.

Kematian Akal Sehat: Ketika birokrasi menggunakan logika pabrik untuk mengukur ilmu pengetahuan, universitas kehilangan fungsi aslinya sebagai benteng kebenaran. Ilmu yang tidak menghasilkan profit dianggap sampah, yang pada akhirnya memicu pendangkalan nalar publik.

Kerapuhan peradaban dengan memangkas disiplin ilmu yang dianggap tidak "populer" di lapangan kerja, pemerintah sedang menciptakan bangsa yang mungkin terampil secara teknis, namun buta secara kritis dan gagap dalam memahami realitas sosialnya. Pada akhirnya pendidikan tinggi kita saat ini sedang berdiri di persimpangan jalan, dimana kita harus memilih untuk tetap menjadi wadah pencerahan bangsa atau menyerah sepenuhnya menjadi perpanjangan tangan departemen HRD perusahaan. Menghapus program studi bukanlah langkah maju, melainkan pengakuan kegagalan dalam memahami hakikat pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang hanya berorientasi pada pasar kerja adalah pendidikan yang telah kehilangan jiwanya. Kita tidak butuh menteri yang berpikir seperti manajer pabrik, kita butuh visi yang memahami bahwa kemajuan sebuah bangsa diukur dari kedalaman berpikir warganya, bukan sekadar dari angka serapan industri yang fana. Kita sebagai mahasiswa seharusnya tidak hanya diam saja ketika pemerintah sudah mulai mengeluarkan narasi yang dirasa tidak lagi relevan, nirfungsi dan tidak berlandasan. Kali ini masa depan yang terancam dimana ranah intelektual yang seharusnya menjadi tempat sakral, kini mulai diubah menjadi ladang pencetak mesin industri berbayar. Maka masihkah kita harus diam melihat kian hari masa depan kita yang mulai terancam.***


Penulis: Yanuar Vip Bagas K (Kader PC IMM Ponorogo)

Editor: Tiffany's 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar