Menanamkan Tri Kompetensi Dasar Dalam Karakter Kader IMM
![]() |
| Sumber foto: IMM Fast UAD |
DPDIMMJATIM - seiring berjalannya waktu pada era disrupsi ini tak jarang terpukau dengan sebuah teori yang disampaikan dalam diskursus perkaderan. Dengan mengenal penanaman karakter awal pada kader Tri Kompetensi Dasar (Trikoda) IMM yaitu; Religiusitas, Intelektualitas, dan humanitas sebagai dasar dan akar yang kuat. Kemudian hingga trikoda ini sudah tertanam maka akan tumbuh serta bermuara menjadi trilogi sebagai identitas ikatan. Tetapi, hari ini mari bercermin pada diri sendiri dan organisasi ikatan sehingga muncul sebuah pertanyaan. Apakah trilogi itu masih menjadi nafas dan nilai gerak ikatan?, Apakah trikoda itu hanya sebatas hafalan untuk bisa lulus diperkaderan formal?. Mari kupas salah satu trikoda yang hari ini perlu perhatian agar tidak luntur pada gerakan dan menjadi bahan muhasabah para kader dan organisasi.
Religiusitas bukan sekedar formalitas perkaderan melainkan sebagai akar karakter para kader. Religiusitas seharusnya tertanam dalam jiwa kader ikatan yang berfungsi sebagai kompas moral yang terarah, religiusitas memiliki tujuan yakni mentransformasikan nilai keislaman menjadi aksi nyata dalam kehidupan.
Namun, mari lihat realita hari ini, nilai keislaman yang seharusnya menjadi ritual kehilangan ruhnya, sering dijumpai tantangan dan hambatan berupa sekularisme yang terselubung didalam jiwa kader yang kebanyakan tak disadari hal itu terjadi. Banyak para kader hebat soal intelektualnya namun minim implementasi nilai dan adab keislaman dalam organisasi, nilai keislaman sebatas instrumen legitimasi bukan menjadi kompas nurani. Contoh konkret yang paling sering dijumpai seperti melalaikan kewajiban religiusitas dengan dalih lebih mementingkan rapat formalitas yang hanya bersifat duniawi. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan keyakinan nilai Trilogi dan Trikoda yang telah tertulis dalam pedoman ikatan.
Melihat ulang Sejarah yang menekankan religiusitas “bagaimana meneladani kedisiplinan Jenderal Sudirman yang tak pernah lepas dari wudhu dan shalat awal waktu di tengah medan gerilya. Jika Sudirman menjadikan religiusitas sebagai benteng pertahanan negara, maka sudah seharusnya kader IMM menjadikan religiusitas sebagai benteng integritas serta agar tak mudah goyah oleh suap, tak mudah rubuh oleh rasa malas, dan tak mudah khianat pada amanah organisasi.”(Suara ’Aisyiyah 2021)
Kemudian Dampak kerapuhan religius akan bersifat destruktif bagi kader lain terutama kader ditingkat dasar, sehingga mereka akan melihat organisasi tidak menjadi tempat menempa diri untuk lebih baik melainkan merusak iman. Bagi persyarikatan akan jauh berdampak fatal seolah kehilangan karakternya, persyarikatan ini lahir dari perjuangan dakwah, jika kader-kadernya rapuh secara spiritual maka perlahan lahan akan melunturkan wibawa moralnya. Adapun juga ini bertentangan dengan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). Dalam pedoman tersebut, Islam harus diamalkan secara kaffah (menyeluruh). Artinya, tidak boleh ada pemisahan antara kecerdasan berpikir dan keluhuran budi pekerti dalam berorganisasi.
Belajar dari Ruh Al-Ma’un bahwasanya perlu mengingat kembali cara Kyai Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un. Beliau menegaskan bahwa religiusitas adalah aksi nyata: menyantuni yang lemah dan memberi solusi pada ketimpangan.
Bagi kader IMM, hal ini dipertegas dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Berorganisasi adalah bagian dari ibadah. Maka, integritas akademik (menolak plagiasi) dan kejujuran dalam memimpin adalah wujud nyata dari religiusitas itu sendiri. Tanpa itu, hanya sedang bersandiwara dalam beragama.
harus kembali ke Khittah Perjuangan yang merujuk pada garis gerak yang memurnikan tujuan IMM sebagai pencetak akademisi Islam yang berakhlak mulia.
Kolektivitas Kader tidak bisa terus menerus memanen kejayaan pada masa lalu tanpa menanam benih integritas hari ini. Para kader perlu membangun kepemimpinan yang berbasis keteladanan, terutama para pimpinan harus menjadikan personifikasi dari Trikoda itu sendiri, tak etis jika menuntut para kader ditingkat bawah harus religius jika ditingkat atas masih intrik yang jauh dari nilai keislaman
Pimpinan harus menjadi personifikasi Trikoda. Tidak etis menuntut kader bawah untuk religius jika di tingkat atas masih terjadi intrik politik yang jauh dari nilai keislaman. Reformasi diri adalah harga mati untuk menciptakan religiusitas sebagai jantung pergerakan, intelektualitas yang beradab, dan humanitas yang bernilai ibadah.
Pimpinan tidak bisa terus menerus memanen kejayaan pada masa lalu tanpa menanam benih integritas hari ini. Dalam Enam Penegasan IMM atau Deklarasi Kottabarat adalah deklarasi penegasan IMM hasil Musyawarah Nasional I tahun 1965 di Kottabarat, Surakarta. Poin pertama yaitu “Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam”. Yang mana bahwasanya religiusitas adalah identitas fundamental, bukan tempelan belaka.
Menatap masa depan organisasi berarti menuntut keberanian para pimpinan untuk menjadikan Simbol Integritas dari Enam Penegasan IMM (Deklarasi Kottabarat). Tidak etis rasanya jika pimpinan menuntut kader di tingkat akar rumput untuk tampil religius, sementara di tingkat pimpinan masih mempertontonkan intrik dan syahwat politik yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Kepemimpinan IMM harus dikembalikan pada relnya: sebuah kepemimpinan yang berbasis pada keteladanan (uswah hasanah), di mana setiap kebijakan dan perilaku pimpinan adalah pantulan dari spirit lillahita’ala dan pengabdian kepada masyarakat.
Hanya dengan cara inilah, organisasi mampu melahirkan kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh. Harapannya, melalui Melalui pimpinan yang menjadi implementasi berjalan dari Enam Penegasan IMM, akan lahir generasi akademisi Islam yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Inilah jalan panjang bagi seluruh elemen Ikata untuk membangun kembali kepercayaan bahwa IMM adalah rahim bagi para pemimpin masa depan yang beradab, jujur, dan senantiasa mendasarkan ilmunya pada amaliah yang nyata.
Arsitektur perkaderan perlu menciptakan perkaderan yang membumi, dari materi religiusitas tidak sekedar hafalan teori dan doktrin pemecahan masalah dilapangan. Melainkan perlu adanya aksi nyata dalam perwujudan.
Sudah saatnya berhenti menjadikan trikoda dan trilogi sebagai jargon saja, perlu reformasi dan transformasi diri untuk menciptakan religiusitas sebagai jantung pergerakan, intelektualitas yang beradab dan humanitas bernilai ibadah.
Mari jadikan kegelisahan ini sebagai titik balik untuk meruntuhkan tembok sekularisme dan mentalitas kolektif dalam membangun kembali integritas yang mulai terkikis. Sebab, hanya dengan karakter yang kokoh itulah kolektif ikatan mampu menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, perlu diingat bahwasanya IMM bertujuan untuk mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Enam Penegasan IMM atau Deklarasi Kottabarat adalah deklarasi penegasan IMM hasil Musyawarah Nasional I tahun 1965 di Kottabarat, Surakarta. Berikut ini adalah isi dari Enam Penegasan IMM:
1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam.
2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
3. Menegaskan bahwa Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara.
5. Menegaskan bahwa Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
6. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahita’ala dan senantiasa diabadikan untuk kepentingan rakyat.
Terkait arsitektur perkaderan, Aksi nyata bisa dilakukan dengan upaya menjaga sholat tepat waktu, menjaga perbuatan dan ucapan dari keburukan amar maruf nahi munkar.***
Penulis: Hisyam (IMM At-Tazkiyah UIN Syekh Wasil Kediri) dan Abdul Hafid (IMM Ahmad Dahlan STIT Muhammadiyah Bojonegoro)
Editor: Tiffany's
